Cari Blog Ini

Minggu, 22 April 2012

cerpenQ


LANGKAH SANIA

Entah musim apa sebenarnya bulan April ini. Rotasi pergantian musim semakin tidak jelas dengan bertambah rusaknya bumi. Yang jelas minggu-minggu ini mendung selalu menggelayut di langit Yogyakarta hingga akhirnya petang datang hujan pun selalu turun. Namun, malam ini lain. Dari lantai dua asrama mahasiswa, bintang-bintang tampak begitu memesona. Paduan sinar bintang dengan cahaya rembulan cukup menggambarkan lukisan alam Yang Maha Sempurna. Di bagian barat langit tampak bersanding begitu indah bulan sabit dan sebuah bintang yang bersinar sangat terang, Tsuroya.
Sani tampak begitu menikmati malam ini. Seolah kebahagiaannya dirasakan pula oleh semesta. Esok hari ia akan melepaskan statusnya sebgai mahasiswa. Rajutan mimpi-mimpi masa depan berlomba merajut dalam benak Sani. Apa yang akan ia lakukan setelah ia wisuda merupakan pikiran terbesar yang selalu menggelayut di pikirannya.
“Mbak Sani dicari Ibu tu di bawah...” teguran Aini, adik kelasnya, membuyarkan rajutan mimpi masa depan yang sedang ia rangkai. Sani segera menuruni anak tangga menuju ruang tamu, tempat di mana keluarganya beserta keluarga calon wisudawati yang lain berkumpul.
                                                                                                                ***
Sania, mahasiswa sebuah universitas pinggiran di Yogyakarta, telah menamatkan program studi S1 nya dengan tepat waktu. Bersama dengan ratusan mahasiswa lain ia akan di wisuda dan dikembalikan kepada orang tuanya. Masa-masa yang menyenangkan, kehidupannya di kampus yang penuh dengan warna dan idealisme kehidupan akan segera tergantikan oleh realitas sosial, kehidupan yang lebih nyata. Bahagia jelas ia rasakan apalagi dengan predikat terbaik dan cumlaude yang diperolehnya. Namun, tugas yang lebih menantang telah menggelayut di depan mata. Saatnya menunjukkan pengabdian atas apa yang telah ia peroleh.
Sania telah berkumpul dengan keluarganya. Semuanya, ayah, ibu, adik-adik Sania, sepupu, dan  tantenya datang jauh-jauh dari ujung Pulau Sumatra untuk menyaksikan prosesi wisuda. Sungguh sania merasa terharu dengan semua ini.
“Sani deg-degan menyambut hari besok. Rasanya belum siap menyandang gelar sarjana ..”
“Besok kamu bukan lagi mahasiswa yang penuh dengan idealisme kehidupan, idealismemu bisa saja runtuh setelah kamu menghadapi relitas kehidupan yang berbeda..bersiap-siaplah menyongsong pola hidup yang baru..” semua tampak khidmat mendengarkan perkataan ayah Sani meskipun yang dituju hanyalah Sani.
“Iya Ayah, Sani akan mencoba melihat realitas yang ada..”
“Ayo kita jalan-jalan ke lapangan di belakang asrama...ntar kita bisa melihat banyak bintang di sana lho...biasanya kalau malam liburan seperti malam Minggu atau Sabtu ada temen-temen Sani yang main gamelan di sana..” Sani menggandeng tangan kedua adiknya dan yang lain pun mengekor ikut keluar menuju lapangan. Lapangan asrama berjarak kira-kira dua puluh meter dari asrama. Selian sebagai tempat olah raga di siang hari, juga sebagai tempat diskusi, kumpul anak-anak komunitas, atau banyak juga yang sekadar nongkrong menghirup udara segar.
Wow, ternyata tidak hanya Sani dan keluarganya yang ingin mneikmati malam di lapangan. Suasana lapangan malam ini lebih ramai dari biasanya. Keluarga teman-teman Sani pun sudah banyak yang lebih dulu berada di lapangan.
“Kak. Malam-malam begini kok lapangannya ramai kayak ada pasar malam aja...” komentar Avril, adik terbesar Sani.
“Mana pasar malamnya kak..kok nggak ada undar-undarnya..?” timpal Nurin, si bungsu.
“Kalian itu yang ada dipikiran cuma pasar malam teruss....” giliran ibu Sani yang menjawab mengingat kedua anaknya tidak pernah ketinggalan kalau ada pasar malam.
“Ayo kita ke pojok sana yang sepi...” Sania memipin pasukan. Sani memilih tempat pojok di dekat penjual jagung bakar.
“Malam Pak...” Sapa Sani pada penjual jagung bakar yang telah dikenalnya.
“Malam Mbak Sani...wah kumpul keluarga iki ya....mau jagung manis, gurih, apa sing pedes..?”
Semua membentuk lingkaran sambil menunggu jagung bakarnya matang. Cakap-cakap hangat pun mengalir. Tampak begitu indah seindah pasangan bulan sabit dan tsuroya yang tetap bertahan di atas sana. Kerinduan Sani yang begitu besar pada keluarganya meleleh saat itu juga.
“Persandingan bulan sabit dan tsuroya tampak begitu anggun dan sempurna. Meski bukan purnama, sinar bulan tampak mengayomi tsuroya sehingga kelihatan lebih terang. Sinar terang tsuroya juga tidak lantas membutanya angkuh malah mengukuhkan bahwa bulan sabit tidak kalah cantiknya dengan purnama. Semoga kita juga seperti itu..” massage sent.
Malam semakin merangkak. Hawa dingin mulai merasuk ketulang. Setelah menghabiskan jagung bakar satu-satu, kecuali Nurin tentunya yang minta tambah, Sania dan keluarga segera meninggalkan lapangan yang sudah mulai sepi.
“Mbak Sania selamat ya besok sudah jadi sarjana...” ucap penjual jagung dengan ciri khas medhoknya ketika Sania membayar. “oh..iya nuwun ya pak...” balas sania yang berusaha belajar bahasa Jawa dengan baik dan benar.
“Besok jam berapa kita berangkatnya Sani..?” tanya ayah Sani memecah kesunyian dalam perjalanan pulang. “Sekitar jam 7-an Yah, nanti sebelum itu kita sowan dulu sama Ibu Nyai..”
“Mas Rangga dateng nggak?” lanjut Doni, sepupu Sani. “ Jelas donk...”
                                                                                ***
Pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang asrama telah ramai. Tidak seperti biasanya yang hanya beberapa mahasiswa saja yang bangun untuk qiyamullail. Jam baru menunjukkan pukul 04.00 tapi sudah banyak mahasiswa yang bangun dan mandi terutama mereka yang akan wisuda. Sani bangun satu jam sebelumnya. Dengan khusyuk ia memanjatkan doa, menyapa Tuhannya di malam sepi. Ia bergegas melepas mukena dan pergi mandi. Setelah itu ia membangunkan keluarganya.
Adzan subuh berkumandang mendayu-dayu memecah dinginnya malam. Mushola asrama telah dipenuhi jamaah mahasiswa dan keluarga. Sani merasa suasana yang lain. Setelah hampir tiga tahun tidak berjamaah bersama keluarga kali ini ia merasakannya. Ia bisa mencium tangan ibunya lagi seperti kebiasaannya dulu sebelum ia di Jogja.
Perlahan tapi pasti matahari mulai memunculkan sinarnya. Sani dan lima teman seasramanya yang akan wisuda segera antre untuk dirias umumnya orang yang wisuda. Sementara itu keluarganya pun berkemas-kemas. Setelah satu jam akhirnya prosesi merias diri pun selesai.
“Kepada para wisudawati dan keluarganya yang akan sowan ke Ibu Nyai diharap segera kumpul di aula” pengumuman dari speaker menggerakkan langkah Sani beserta yang lainnya mengajak keluarganya untuk segera menuju ke aula. Ia akan mendengarkan wejangan-wejangan dari Ibu Nyai, ibu pengasuh asrama  tempat ia tinggal.
“Alhamdulillah kalian semua sudah lulus masa kuliah. Tapi itu bukan berarti selesai masa belajar karena sejatinya belajar tak akan pernah usai dan belajar dalam masyarakat itu lebih berat dari pada belajar di dalam kelas. Salurkan ilmu kalian sehingga apa yang kalian dapatkan di kelas tidak sia-sia..khoirunnas anfa’u linnas..” begitu pesan Bu Nyai. Mungkin sudah biasa didengar tapi maknanya sungguh luar biasa.
Selama perjalanan menuju kampus sani terus terngiang-ngiang dengan pesan Bu Nyai sambil memikirkan apa yang hendak ia lakukan setelah lulus nanti.
                                                                                ***
Prosesi wisuda diawali dengan kirab para wisudawan-wisudawati mengelilingi area kampus. Dilanjutkan upacara ceremonial di gedung Serbaguna kampusnya. Ceremonial yang umum dilakuakn di mana-mana: sambutan dari para petinggi universitas. Yang paling panjang melakukan sambutan adalah Bapak Rektor. Hufht....prosesi ceremonial yang panjang, panas dan melelahkan. Beberapa kali Sania mengelapkan tisu ke wajahnya meskipun di dalam ruangan ber-AC. Wajah lelahnya tampak berseri-seri ketika dibacakan mahasiswa berprestasi. Sania menduduki peringkat terbaik dan tercepat seuniversitas.
Gedung Serbaguna semakin panas dan ramai setelah proses ceremonial berakhir. Para mahasiswa meluapkan kegembiraan bersama teman-temannya. Sania segera menyingkir dari kerumunan teman-temannya. “Sani foto bareng dulu sini donk ngeloyor aja kamu...” langkahnya terhenti. Ia menuju gerombolan anak-anak narsis. Jepret sana-jepret sini dengan berbagai gaya.
“Udah dulu ya capek ni narsis melulu...aku mau cari angin segar panas banget di sini..” pamit Sani pada teman-temannya. Ia segera menuju keluar gedung menemui keluarganya. Sayup-sayup ia mendengar lagu Bruno Mars “Just the Way You Are” lagu kesukaannya.
“Mbak Sani.....” dua adik kecilnya menyambut dengan teriakan histeris.
“Selamat ya Nak...” bergantian ayah, ibu, tante, dan sepupunya mengucapkan selamat.
“Terimakasih...” balas Sani singkat. “Ihh...Mbak Sani nangis, cengeng...” ledek Avril yang memergoki sani mengusap air mata harunya. Kali ini Sani tidak mau melayani ledekan Avril. Ia mencari seseorang.
“Sani...”  ia menengok ke arah suara yang memanggilnya. Rangga.
“Selamat ya udah jadi sarjana...” dengan seikat mawar putih ia Rangga memberikan sapaan sayangnya kepada Sani. “Sory aku telat ...oh ya kamu dapat tamu khusus lho...”
“Siapa..?” tanya Sani penasaran. Rangga membuka pintu mobil. Tampak pak tua yang keluar dari mobil.
“Kakek....”seru sani sambil menyambut  kakeknya.
“Ayo kita duduk dulu biar lebih santai..”ajak Ayah Sani. Mereka segera menuju ke bawah pohon, tempat yang sudah di bokking untuk keluarga Sani.
“Ayah, Ibu...kenalkan ini Kakek. Beliau udah Sani anggap kayak kakek Sani sendiri..”
“Oh iya kek Sani sering cerita tentang Kakek  kalau dia telpon. Makasih sudah menganggap sani sebagai cucu dan memberi pelajaran hidup bagi sani..”ucap Ibu Sani.
Kumpulan keluarga itu makinmeriah dengan lantunan lagu-lagu Bruno Mars yang diputar Rangga.
“Mas Rangga kapan nglamar Mbak Sani? Dia kan udah wisuda dan Mas Rangga udah mapan..”celethuk Doni.
“Husss kamu itu, baru aja wisuda...kerja dulu bantu orang tua dulu..”tante Rina menimpali omongan anaknya. Yang ditanya malah cuma senyam-senyum tidak jelas apa artinya.
“Sani apa rencana berikutnya..? tetap mau tinggal di Jogja?” tanya Kakek.
“Sani sih pinginnya tetep di Jogja. Cari pekerjaan di jogja. Selain itu Jogja kan akses informasi dan sebagainya serba mudah. Sani bisa tetep nulis dan paling nanti juga ngajar...”
“Nggak mau kerja di rumah Nak,,,?” tanya Ayah.
“apa nggak mau jauh sama ayang Rangga?” lagi-lagi Doni meledeknya. Sani dan Rangga jadi salah tingkah.
“Orang yang baru luus wisuda itu diibaratkan ia sudah mempunyai bekal cahaya untuk masa depan. Tentu saja cahaya itu akan berguna jika dibagi dan digunakan untuk menyinari. Sani jika kamu sanggup menyinari seperti matahari tidak apa kamu tetap di Jogja karena tidak ada sinar yang lebih terang dari matahari. Tapi kalau kamu merasa sinarmu baru sepeti lilin janganlah kamu berada ditempat terang karena sinarmu tidak akan terlihat dan tidak bermanfaat. Sebuah lilin akan sangat bermanfaat jika di tempat gelap. Di luar sana masih banyak yang membutuhkan cahaya lilinmu.   Terangilah tempat yang gelap agar menjadi terang, jangan kau terangi tempat yang sudah terang. Masalah cinta jauh dekat sama saja jika jodoh pastilah bertemu. “ nasihat Kakek dengan penuh wibawa.
                                                                                                ***
Kebahagiaan wisuda telah berlalu. Keluarga Sani telah kembali ke Aceh. Sementara Sani masih berat meninggalkan Jogja dengan kebingungannya. Keputusan harus tetap diambil. Meskipun berat meninggalkan Jogja dengan segala kenangan indahnya bersama teman-temannya dan terlebih lagi bersama Rangga, Sani akhirnya pulang ke kampung halaman. Menjadi setitik cahaya di kampung halamannya yang belum juga terang. Sebuah lilin mampu menerangi tempat yang gelap tapitidak akan mampu lagi menambah terangnya dunia yang telah terang. Kekuatan cinta turut menguatkannya melangkah keluar Jogja.


















DATA PRIBADI
Elziya adalah nama pena dari Laeli Azizah. Anak kelahiran Kebumen, 9 Mei 1991 kini tengah menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Penulis tinggal di PP Nurul Ummah Putri, jln. R Ronggo kG II/981 Kotagede, Yogyakarta. Bisa dihubungi di nomor 085729349982.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar